fbpx

Rombongan Mahasiswa Universiti Sains Islam Malaysia Pelajari Layanan Disabilitas

Rombongan mahasiswa Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) mengunjungi Subdirektorat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya, Kamis (29/2/2024). Sebanyak enam mahasiswa menjalani kegiatan in-bound mereka di UB dengan mengunjungi dan mempelajari layanan disabilitas.

Rombongan mahasiswa Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) mengunjungi Subdirektorat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya, Kamis (29/2/2024). Sebanyak enam mahasiswa menjalani kegiatan in-bound mereka di UB dengan mengunjungi dan mempelajari layanan disabilitas.

Setelah pemaparan tentang layanan disabilitas di UB bersama jajaran pengurus Subdirektorat Layanan Disabilitas, mereka sharing pengalaman dengan mahasiswa difabel di UB dalam kegiatan akademik.

Di sesi pertama pemaparan, pengurus Subdirektorat Layanan Disabilitas yang diwakili Cyndiarnis Cahyaning Putri, Lutfi Amiruddin, dan Layta Dinira menjelaskan seluk beluk layanan disabilitas, mulai dari sejarah, penyelenggaraannya, temuan-temuan hingga tantangan-tantangannya.

“Banyak yang kemudian kami pelajari. Karena dulu pun sebenarnya layanan disabilitas juga merupakan hal yang baru bagi kami. Banyak hal baru muncul dan bisa jadi tidak terduga, namun di situlah menariknya,” ucap Lutfi Amiruddin, S.Sos., M.Sc. dosen Sosiologi FISIP UB yang juga menjabat koordinator layanan eksternal SLD UB.

“Kami juga sebagai dosen mendapatkan pelatihan untuk mengajar. Di Pekerti (Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Dosen), ada materi tentang pembelajaran ramah difabel,” tambah Cyndiarnis Cahyaning Putri, SH.,M.Kn., dosen FHUB yang juga pengurus bagian layanan eksternal SLD UB.

Tanya jawab tentang layanan disabilitas ini berlangsung menarik dan sangat interaktif antara pengurus SLD dan mahasiswa USIM. Salah satu mahasiswa USIM menceritakan bahwa sampai saat ini mahasiswa penyandang disabilitas di USIM masih terbatas di beberapa fakultas dan dengan disabilitas tertentu pula.

“USIM memiliki Pusat Penyelidikan Ibnu Ummi Maktum. Di sana penyandang disabilitas netra banyak, dan rata-rata mereka qari’,” cerita salah satu mahasiswa.

Menurut mereka, penyandang disabilitas daksa, Tuli, atau lainnya belum sepenuhnya mereka ketahui. Sepengetahuan mereka, kampus mereka memang belum sepenuhnya inklusif kepada penyandang disabilitas. Untuk itu mereka sangat tertarik dapat mengadaptasi layanan disabilitas di sana.

“Kami sangat tertarik dengan hal ini. Kami paham bahwa Deaf berbahasa isyarat, tapi tidak benar-benar tahu mereka di keseharian dan di kampus,” kata salah seorang mereka.

Di sesi berikutnya di ruang layanan Subdirektorat Layanan Disabilitas, mereka melakukan sharing sesama mahasiswa tentang bagaimana mahasiswa difabel menjalani kuliah. Dipandu Cyndiarnis Cahyaning Putri, mahasiswa USIM, mahasiswa difabel dan volunteer di UB, berbincang tentang banyak hal mulai dari perkuliahan, beasiswa, hingga kegiatan non-akademik di kampus.

Open chat
1
Need help?
PLD UB
Hello, can we help you?