fbpx

Introduction

Mengkaji Tingkat Inklusifitas Pendidikan di UB

Mengkaji Tingkat Inklusifitas Pendidikan di UB

Mengkaji Tingkat Inklusifitas Pendidikan di UB

Dalam rangka mengevaluasi tingkat inklusifitas pendidikan di Universitas Brawijaya, Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) menyelenggarakan kegiatan Kajian Pendidikan Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas di Universitas Brawijaya. Kegiatan ini diselenggarakan secara luring dan daring di hotel The Shalimar Boutique Hotel pada hari kamis (11/11/21).

Dengan semakin berkembangnya isu-isu disabilitas di berbagai sector seperti dari tingkat mahasiswa hingga pengajar atau dosen, semua itu tidak lepas dari semangat inklusif yang ditularkan oleh para pelopor berdirinya PSLD UB sampai turun-temurun sampai sekarang. Dari semangat inklusif yang diturunkan tersebut maka tercapailah penghargaan-penghargaan yang diterima oleh PSLD UB seperti penghargaan Best Practice yang diberikan oleh Zero Project dan penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik yang diberikan oleh Kemenpanrb. Sehingga sampai detik ini UB melalui PSLD UB dijadikan role model percontohan sebagai penyelenggara kampus yang inklusif untuk penyandang disabilitas.

Dari semua pencapaian yang sudah dicapai oleh PSLD tersebut, PSLD ingin melakukan evaluasi dengan melakukan kajian terhadap praktik pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas di UB. Namun sebelum kegiatan dimulai, acara dibuka dengan sambutan-sambutan yang diberikan oleh ketua LP3M UB, Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng dan Zubaidah Ningsih AS, Ph.D. Dalam sambutanya beliau memberikan pemaparan terkait arah perkembangan tingakt inklusifitas di kampus UB yang semakin lama semakin inklusif. Oleh sebab itu sesuatu yang sudah baik itu harus dipertahankan dan harus bisa dikembangkan agar lebih baik lagi. Beliau juga berkata bahwa “kebinekaan itu bukan hanya berbicara mengenai agama, suku, ras dan budaya saja, namun juga keberagaman dalam hal difabel (different ability)” ucapnya (11/11/21).

Kegiatan ini mengundang seluruh ketua pusat studi (KPS) dan wakil dekan bagian akademik (WD1) masing-masing fakultas. Dalam kegiatan tersebut, seluruh peserta dibuatkan kelompok-kelompok untuk mendiskusikan penyelenggaraan pendidikan inklusif yang sudah diterapkan di UB selama ini. Selama proses diskusi diharapkan para KPS dan WD1 dapat memberikan evaluasi dan masukan-masukan terkait praktik pendidikan inklusif di UB selama ini. Tidak hanya dari segi pelayanan pendampingan untuk mahasiswa disabilitas saja, namun dari semua sector, seperti sector materi pembelajaran yang aksesibel, kurikulum yang aksesibel dengan menerapkan universal design learning (UDL), sampai dengan kebijakan di UB.

Harapanya hasil dari kajian ini dapat berguna sebagai bahan advokasi untuk menentukan arah kebijakan yang dapat memenuhi hak-hak penyandang disabilitas di UB. Terlebih lagi, hasil dari kajian ini juga dapat digunakan sebagai acuan kebijakan dalam menyambut penerapan PTNBH dan program Merdeka Belajar di UB. Sehingga mahasiswa penyandang disabilitas tetap mendapatkan hak-haknya sebagai mahasiswa dan bisa terlibat aktif dalam proses kegiatan akademik maupun non-akademik di UB, menyemai inklusi untuk masa depan yang berkeadilan.