fbpx
Seorang difabel Tuli memperagakan praktik berbahasa isyarat di pelatihan Bahasa Isyarat Dasar pada volunteer.

Introduction

PSLD UB Hadirkan Orangtua Mahasiswa Baru Demi Efektivitas Layanan

PSLD UB Hadirkan Orangtua Mahasiswa Baru Demi Efektivitas Layanan

Kota Malang—Sebagai lanjutan dari agenda sebelumnya, hari ini PSLD UB mengadakan sosialisasi mengenai layanan dan kajian yang tersedia kepada orangtua mahasiswa baru penyandang disabilitas. Kegiatan ini diselenggarakan di Meeting Room LP3M UB Gedung Layanan Bersama Lantai 4 pada Selasa, 14 Agustus 2018.

Ketua Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya Fadillah Putra, Koordinator Bidang Konseling Unita Werdi Rahajeng, dan Koordinator Bidang Pelayanan Alies Poetri Lintangsari, berturut-turut memberikan penjelasan mengenai PSLD UB kepada peserta sosialisasi.

Ketua PSLD UB menjelaskan bahwa pendidikan inklusif sejatinya adalah tugas semua orang. “Bahkan dibanding bapak ibu sekalian, sebenarnya kami tidak ada apa-apanya. Bapak ibu bersama mereka sepanjang hari. Sedangkan kami hanya memfasilitasi kebutuhan penyandang disabilitas di ranah akademik,” tambahnya. Dalam sambutannya tersebut, ia juga memaparkan profil PSLD UB satu per satu, mulai dari fungsi, layanan, kajian, hingga capaian dan tantangan yang PSLD UB hadapi selama ini sejak berdiri pada 2012 lalu.

“Ada beberapa layanan yang justru mereka tidak maksimalkan, padahal sejatinya mereka membutuhkan itu. Jadi bapak ibu sendiri perlu turut mengontrol anak-anak kita semua sejauh mana mereka dapat menjangkau akses fasilitas yang tersedia,” ucap Alies Poetri Lintangsari menambahkan.

Pembentukan Forum Orangtua
Sebagaimana pertemuan orangtua pada tahun-tahun sebelumnya, agenda ini juga hendak menyatukan orang tua mahasiswa baru penyandang disabilitas dalam satu forum komunikasi untuk menguatkan dan berbagi satu sama lain. Dipandu oleh Yuyun Riani, hadirin bersepakat untuk membuat forum yang dapat mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan anak mereka.

Sebelum terbentuk forum, penyampaian pengantar didahului oleh salah satu orang tua mahasiswa penyandang disabilitas tahun sebelumnya yang berbagi pengalamannya dalam mengawal proses pendidikan anaknya di Universitas Brawijaya.

“Jadi, sangat penting juga mengenali apa disabilitas yang mereka miliki. Dengan demikian, ada dorongan untuk membuat mereka percaya diri dengan keadaan itu,” ucapnya tegas. “Anak saya autis, dan ia menyadarinya. Dengan demikian ia dapat memposisikan diri harus bagaimana,” tambahnya.

Di sesi tersebut, peserta pun banyak memperoleh ide-ide terkait hal-hal di luar dunia akademik namun masih berkaitan dengan aktivitas kuliah mereka, seperti bagaimana mencari dan menentukan tempat tinggal, bagaimana mengatasi kebutuhan sehari-hari, dan lainnya.

Open chat
Need help?
PLD UB
Hello, can we help you?