fbpx
Seorang difabel Tuli memperagakan praktik berbahasa isyarat di pelatihan Bahasa Isyarat Dasar pada volunteer.

Introduction

EM UB Kunjungi PSLD UB Bahas Infrastruktur Inklusif

EM UB Kunjungi PSLD UB Bahas Infrastruktur Inklusif

Kota Malang—Menindaklanjuti pertemuan sebelumnya yang membahas infrastruktur di Universitas Brawijaya, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya atau EM UB mengadakan kegiatan buka berama di Pusat Studi dan Layanan Disabilitas, Kamis, 24 Mei 2018.

Dalam rencana Kementerian Kebijakan Kampus, kementerian dari EM UB yang mengawal proses dan keterlaksanaan kegiatan ini, Wakil Rektor 3, Wakil Dekan 3 Program Vokasi, Fakultas Ilmu Budaya, dan Fakultas Ilmu Komputer. Di dua fakultas dan satu program inilah mahasiswa difabel di UB signifikan jumlahnya dibanding di jurusan lain.

Dalam kegiatan yang bertajuk Ramadan Berkah Brawijaya ini, Pak Luluk dari Bagian Barang Milik Negara, Biro Umum dan Kepegawaian Kantor Pusat Universitas Brawijaya, turut hadir. Dari pihak Pusat Studi dan Layanan Disabilitas, Ketua PSLD UB, Fadillah Putra, menyambut kehadiran undangan dan peserta kegiatan.
Luluk memberikan penjelasan yang cukup rinci mengenai alur anggaran perbaikan infrastruktur. Hal ini tentunya menyangkut penyediaan fasilitas yang inklusif untuk seluruh sivitas akademika Universitas Brawijaya.

“Untuk perbaikannya bertahap ya. Karena yang terlaksana tahun ini pun sudah dibuat anggarannnya jauh-jauh hari. Jadi yang bisa diusulkan sekarang mungkin akan dilaksanakan tahun depan,” ucap Luluk jelas.
Di samping itu, Fadillah Putra juga memberikan penjelasan terkait ketersediaan fasilitas dan hukungannya dengan disability awareness. “Ada prinsip yang harusnya kita ikuti, seperti Universal Design itu. Selain itu juga ada kesadaran manusianya untuk tidak menyalahgunakan fasilitas yang sudah inklusif,” jelasnya.

Usulan Mahasiswa Difabel
Dari mahasiswa difabel, ada beberapa usulan yang muncul. Usulan Abimanyu, mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, mengatakan bahwa selama ini PSLD UB tentu belum sampai pada pendampingan di luar bidang akademik. “Misalnya, kan PSLD belum bisa memberikan pendampingan untuk aktif di organisasi, sedangkan mayoritas mahasiswa difabel di UB adalah Tuli. Bagaimana kalau setiap lembaga kemahasiswaan itu harus ada minimal satu orang yang bisa bahasa isyarat? Itu usulan saya,” kata Abi tegas.

Rara Lingga, Ketua Forum Mahasiswa Peduli Inklusi UB, juga ikut berkomentar. Menurutnya, sudah ada beberapa fasilitas yang diusahakan untuk memenuhi kebutuhan, tapi ternyata disalahgunakan. “Ya contohnya di samping rektorat itu, sering disalahgunakan oleh orang. Kita perlu mencari cara agar ada semacam peringatan yang dapat membuat orang paham,” kata Rara.

Muhammad Hasan mengusulkan agar khutbah jum’at di Masjid Raden Patah UB disediakan penerjemah bahasa isyarat atau running text yang dapat membuat mahasiswa atau jamaah yang Tuli memahami isi khutbah. (mhn)

Open chat
Need help?
PLD UB
Hello, can we help you?