fbpx

Introduction

Bimbingan Teknis Tim PSLD UB untuk Meningkatkan Layanan bagi Penyandang Disabilitas di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang

Bimbingan Teknis Tim PSLD UB untuk Meningkatkan Layanan bagi Penyandang Disabilitas di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang

Sebagai bentuk komitmen kerja sama antara PSLD UB dan Pegadilan Agama Kabupaten Malang, PSLD UB memberikan pelatihan Bimbingan Teknis Layanan bagi Penyandang Disabilitas bagi para pegawai Pengadilan Agama Kabupaten Malang, secara luring di Grand Kanjuruhan Hotel Kabupaten Malang (11/22). Pelatihan bimtek ini juga dibuka dan diresmikan secara langsung oleh Dr. Drs. H. Aco Nur, S.H., M.H. selaku Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag).

Dalam sambutanya, Dr. Drs. H. Aco Nur, S.H., M.H. mengatakan bahwa proses perbaikan-perbaikan layanan dan infrastruktur di lingkungan pengadilan agama merupakan wujud dari kehadiran negara dalam melayani seluruh lapisan masyarakat termasuk penyandang disabilitas.

“inilah bentuk kehadiran negara dalam melayani seluruh lapiasan masyarakat termasuk masyarakat penyandang disabilitas tanpa melihat nilai yang harus dikeluarkan”, ujarnya dalam sambutan (11/22).

Setelah acara sambutan-sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari Zubaidah Ningsih AS, Ph.D selaku ketua PSLD UB dalam pemaparan materinya tentang indeks inklusifitas PA Kabupaten Malang menyatakan bahwa untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam bidang layanan dan infrastruktur memerlukan dana yang tidak sedikit dengan presentase penggunanya. Zubaidah menambahkan bahwa tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita semua akan menjadi disabilitas dan memerlukan layanan dan infrastruktur yang aksesibel.

“Memang perbandingan dana yang harus dikeluarkan dan penggunanya sangat sedikit, namun tidak ada yang menjamin bahwa kita semua yang ada disini suatu saat akan menjadi difabel. Ini memerlukan layanan dan infrastruktur yang aksesibel”, ujarnya dalam pemaparan materi terkait (11/22).

Acara diteruskan dengan pemaparan materi terkait disability awareness yang disampaikan oleh Tommy Hari Firmanda, S.Psi., M.Si., M.Ed (Speced). Dalam pemaparanya, Tommy menjelaskan terkait isu-isu disabilitas dan peserta juga diajak untuk melihat disabilitas dari sudut pandang penyandang disabilitas. Selain itu, beliau juga menjelasakan tentang ragam disabilitas dan bagaimana cara untuk mendampinginya dan peserta juga diajak untuk melihat disabilitas dari sudut pandang secara global.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari Mahalli, S.Sos terkait aksesibilitas digital. Dalam pemaparanya Mahalli menerangkan tentang macam-macam informasi digital yang biasa diakses oleh penyandang disabilitas. Informasi digital yang dimaksu seperti file dokumen, informasi di website dan sosmed. Beliau juga menjelaskan hambatan-hambatan yang biasa ditemui oleh penyandang disabilitas khususnya disabilitas tunanetra ketika mengakses informasi-informasi tersebut. Kemudian dari pemaparan itu beliau juga menjelaskan cara untuk membuat informasi-informasi digital tersebut menjadi aksesibel.

Setelah pemaparan dari para pemateri, kegiatan dilanjutkan dengan praktik cara mendampingi penyandang disabilitas berdasar jenis-jenisnya. Kegiatan dilakukan dengan membagi peserta menjadi 3 pos. Pos ini dibagi berdasar jenis disabilitasnya yakni pos daksa, pos tuli, dan pos tuna netra. Tidak hanya itu, kegiatan praktik ini juga difasilitatori langsung oleh penyandang disabilitas UB. Pos tunadaksa difasilitatori oleh Saphira Kusbandiyah dan Rara Lingga, pos tuli difasilitatori oleh Fathzefa Samodra dan Hervita El Fatich, dan pos tuna netra difasilitatori oleh Afif Husain Rasyidi dan Tommy Hari Firmanda.

foto kegiatan pada pos daksa

Yang pertama adalah pos daksa. Pada pos ini Shapira dan Rara memberikan contoh menggunakan kursiroda ketika secara mandiri. Kemudian juga dijelaskan bagaimana mendorong kursi roda ketika melewati anak tangga dan ramp yang baik, benar dan juga aman untuk penyandang disabilitas daksa. Hal ini sangat penting untuk diketahui oleh para peserta karena mendorong kursi roda tidak bisa asal-asalan sebab yang menurut kita sudah benar cara mendorongnya tapi belum tentu itu benar dan nyaman bagi penyandang disabilitas daksa.

foto kegiatan pada pos tuli

Yang kedua adalah pos tuli yang difasilitatori oleh Fathzefa dan Hervita. Pada pos ini mereka mengajak para peserta dari PA untuk belajar Bahasa Isyarat. Materi yang diajarkan adalah Bahasa Isyarat abjad dari A sampai Z dan beberapa kalimat perkenalan diri dan kalimat-kalimat sapaan. Para peserta juga diajak untuk praktik langsung menggunakan Bahasa Isyarat.

Pos yang terakhir adalah pos tunet yang difasilitatori oleh Afif dan Tommy. Pada pos ini para peserta dijelaskan secara singkat mengenai jenis-jenis ketunaan. Dari penjelasan itu para peserta diajak untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi disabilitas tunanetra dengan menggunakan kacamat tunanetra yang sudah didesain sebelumnya. Selain itu para peserta juga dijelaskan bagaimana cara mendampingi penyandang disabilitas tunet yang baik dan benar.

Dari kegiatan praktik ini dapat dilihat bahwa para peserta dari Pengadilan Agama Kabupaten Malang sangat antusias mengikuti rangkaian acara ini. Beberapa dari peserta menyampaikan bahwa dengan adanya pelatihan ini dapat memberikan pengalaman baru seperti belajar Bahasa isyarat dan bagaimana cara mendampingi penyandang disabilitas yang baik dan benar.

“pelatihan ini adalah hal baru untuk kami sebagai pegawai di lingkup Pengadilan Agama dan kami juga belajar banyak hal seperti belajar Bahasa isyarat dan bagaimana medampingi dan melayani penyandang disabilitas yang baik dan benar”, ujar salah satu peserta (11/22).

Harapanya dari antusiasme para peserta ini dapat menambah kesadaran terhadap penyandang disabilitas dan dapat memberikan pelayanan yang inklusif bagi penyandang disabilitas di lingkup Pengadilan Agama.